aviyasa-consulting

Just another Today.com weblog

&
 

Oct 24 2007

Direktur Aviyasa : Ketika Seks Menjadi Pameo Politik

Published by aviyasacon at 10:11 am under Uncategorized Edit This

Dalam banyak sejarah, politik identik dengan kekuasaan. Dan kekuasaan berkaitan erat dengan seks. Keduanya hampir tidak pernah berpisah. Sangat banyak kisah yang mengungkapkan bagaimana seks selalu dekat dengan kekuasaan. Terbukti sejak zaman di dunia ini dipimpin oleh raja-raja. Hampir dapat dipastikan mereka memiliki banyak isteri. Bahkan selain itu juga banyak memiliki selir dan perempuan simpanan. Hal itu pun juga telah menjadi warna tersendiri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Pameo seks dekat dengan politik-kekuasaan lebih mejadi sebuah keniscayaan lagi ketika dikabarkan adanya skandal seks yang dilakukan oleh salah satu oknum anggota DPR. Skandal seks yang tersebar melalui video adegan mesum dari rekaman sebuah telephone seluler. Tidak berlebihan ketika Partai Golkar yang menjadi induk dari oknum bersangkutan sempat kebakaran jenggot dan tidak punya muka.

Peristiwa ini adalah satu dari sekian banyak perbuatan amoral yang dilakukan oleh para pejabat di negara ini. Bukan sekedar apologi lagi, ketika para politisi biasanya juga ditemani oleh perempuan-perempuan cantik dalam acara-acara santai. Sebut saja seperti saat main golf. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memiliki affair dengan sekretaris pribadinya. Dan gemar akan dunia gemerlap (dugem).

Sebagai bangsa yang beragama, tak heran tindakan itu dianggap oleh masyarakat kita sangat bertentangan dengan moralitas agama dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Sehingga apapun motif dari beredarnya secara luas rekaman video mesum itu tidak dapat diterima begitu saja. Apalagi yang melalukannya adalah seorang wakil rakyat. Hal sangat memprihatinkan dan sangat memalukan. Orang yang mestinya terhormat karena dipilih rakyat justru melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Padahal, kita semua tahu bahwa pemimpin di mana-mana menjadi panutan bagi orang yang dipimpin.

Adalah sebuah kekeliruan pula ketika peristiwa yang banyak menyita waktu dan perhatian berlebihan akhir-akhir ini tidak akan menyelesaikan persoalan bangsa ini. Sedangkan kejahatan asusila lainnya seperti korupsi tidak dijadikan fokus. Padahal korupsi lah yang telah menjadikan bangsa ini terbelakang. Masyarakat kita tidak dapat membenarkan akan pandangan tersebut. Penyikapan yang menyatakan bahwa kasus seks yang dilakukan oleh seorang politisi Golkar tersebut adalah urusan pribadi. Tidak ada dampak apapun bagi rakyat. Karena tuntutan utama masyarakat terhadap politisi kita adalah mensejahteraka rakyat. Singkatnya tindakan amoral tidak ada hubungan dengan urusan politik.

Pandangan yang mengatakan bahwa urusan politik tidak boleh dicampuradukkan dengan moral memang telah banyak diperbincangkan. Nicolo Machiavelli, seorang pemikir Italia yang hidup pada abad ke-15 menyatakan, politics has no relation to morals. Pemikiran ini senada dengan pandangan Lenin dan Gladstone. Pandangan yang menganggap bawah politik adalah lembah yang kotor. Segala cara selalu menjadi halal. Satu yang menjadi tujuannya ialah dapat menaklukkan lawan politiknya.

Berbeda dengan pandangan di atas. Karl Popper, seorang ahli filsafat politik dari Inggris yang juga sangat dihormati dikalangan ilmuwan seantero dunia, berpendapat bahwa politik harus dimoralkan; bukan sebaliknya, moral dipolitisasikan! Dalam artian moralitas berarti konsisten berpegang pada pedoman hidup suatu masyarakat, terutama yang digariskan oleh agama.

Oleh sebab itulah seharusnya kita menolak dan menentang keras pandangan yang mengatakan bahwa urusan politik tidak boleh dicampuradukkan dengan moral. Sebab permainan politik tanpa diberikan batasan moral tidak ada beda dengan binatang. Untuk itu salah besar ketika kejadian yang menimpa seorang anggota DPR itu dianggap biasa. Apalagi menganggap itu sebagai pick up the wrong issue (memilih debat yang salah alamat).

Sedikit untuk instrospeksi diri, bahwa bangsa kita memang belum bisa berubah. Kinerja para politisi sangat jauh dari harapan. Apalagi ngomong masalah kesejahteraan rakyat. Praktik korupsi para politisi kita malah cenderung meningkat. Tak heran akhir-akhir ini marak kita dengar “korupsi berjamaah”. Korupsi yang dilakukan oleh para politisi mulai dari yang paling tinggi hingga paling bawah jabatannya.

Terlebih lagi bagi wakil rakyat kita yang terhormat, perselingkuhan Yahya Zaini dan Maria Eva telah kembali mengguncang wajah politisi kita akan skandal seks yang mencuat belakangan ini. Wakil rakyat seharusnya menjadi teladan moral bagi rakyat yang diwalikinya. Bukan malah memberi contoh dengan menjadi wakil rakyat yang suka selingkuh, beradegan mesra dan mesum lalu merekamnya atau bahkan melalukan praktek amoral lainnya

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!